Tradisi Lebaran Topat
“Lebaran Topat” merupakan tradisi masyarakat Lombok khususnya masyarakat Lombok Barat yang di rayakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Lebaran Topat oleh masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok, disebut juga sebagai Lebaran Nine (Lebaran Perempuan). Tradisi Lebaran Topat dirayakan setelah menunaikan ibadah puasa sunnah selama enam hari berturut-turut selama bulan Syawal dalam tahun Hijriyah. Puasa ini dimulai sehari setelah perayaan Lebaran Idul Fitri. Bagi masyarakat Sasak, lebaran ini adalah salah satu bentuk syukur atas rejeki yang diterima, dan wujud terima kasih telah dipertemukan dengan bulan Ramadhan.
Di sebut dengan Lebaran Topat, karena pada hari tersebut identic dengan Topat atau Ketupat ( sejenis makanan terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa berbentuk ketupat yang direbus hingga matang). Di setiap rumah warga sudah bisa dipastikan ada ketupat yang tersaji bersama opor ayam, opor telur dan urap—urap (Aneka sayuran rebus seperti tauge, kacang panjang daun singkong, daun katuk dll yang di sajikan bersama kelapa parut yang sudah dibumbui) untuk dinikmati bersama keluaraga tercinta.
Di beberapa kampung seperti di Kampung Puncangsarai Barat dan sekitarnya Lebaran Ketupat juga di rayakan di Masjid – Masjid di sekitar tempat tinggal. Habis sholat subuh berjamaah, warga laki-laki akan tetap tinggal di Masjid untuk mengadakan acara syukuran yang di rangaki dengan acara Ngurisan (prosesi potong rambut untuk yang pertama kalinya bagi bayi baik bayi laki-laki atau pun bayi perempuan. Sedangkan warga perempuan menyiapakan sajian Ketupat tersebut dan dibawa ke Masjid untuk disantap bersama-sama setelah acara ngurisan selesai.
Selepas perayaan di Masjid atao di lingkungan masing-masing, masyarakat biasanya akan berbondong-bondong mendatangi makam keramat untuk berdo’a. Diantara sejumlah makam wali yang dikunjungi, yaitu Makam Keramat Lembar di Lembar, Makam Keramat Anak Iwok di Gerung, Makam Wali Jeranjang di Jeranjang, Gerung, Makam Wali Telang (Wali Hilang) di Kuranji, dan Makam Keramat Batulayar di Batulayar. Bagi yang belum sempat ke Masjid, warga juga akan mengadaka syukuran seperti Ngurisan dan acara bejarup (perosesi membasuh muka dengan air yang sudah dibacakan do’a) derah Makam Keramat. Warga sasak di Lombok meyakini, perosesi membasuh muka ini jika dilakukan dengan do’a yang khusuk dan ikhlas maka segala segala hajat dan cita-cita akan segera dikabulkan oleh Allah SWT.
Setelah acara di Pemakaman selesai, warga akan mengunjungi pantai-pantai yang terdekat dari tempat tinggal mereka atau yang terdekat dari Makam Keramat yang mereka kunjungi sebelumnya. Seperti Warga Puncangsari contohnya setelah dari Makam Batu Layar mereka akan berpindah tempat ke Pantai Batu Layar untuk menikmati sajian ketupat yang dibawa dari rumah. Di pantai biasanya mereka akan bertemu dengan banyak kerabat dan sahabat mereka, sehingga kunjungan ke pantai ini selain sebagai ajang rekreasi bisa juga digunakan sebagai ajang silaturrahi terutama bagi mereka yang belum sempat saling bertemu setelah Idul Fitri. Mereka akan menikmati sajian khusus tersebut secara berjamaah dengan duduk bersila sambil bercengkerama memandang indahnya pemandangan laut.
Ayu Asri

