Ketika ChatGPT Lebih Dipercaya daripada Sahabat Sendiri: Psikiater UNIZAR Mengulas Fenomena Curhat ke AI

Ketua Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar, dr. Danang Nur Adiwibawa, SH., Sp.KJ (K)

Mataram – Beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak lagi hanya digunakan untuk membantu pekerjaan, mencari informasi, atau membuat konten. Kini, semakin banyak orang menjadikan AI sebagai tempat berbagi cerita, mencurahkan perasaan, hingga mencari nasihat ketika menghadapi persoalan hidup.

Fenomena ini semakin terlihat sejak hadirnya berbagai platform AI yang mampu memberikan respons layaknya percakapan manusia. Tidak sedikit pengguna yang mengaku merasa lebih nyaman berbicara dengan AI dibandingkan dengan teman, keluarga, bahkan pasangan mereka sendiri.

Menurut dosen sekaligus Ketua Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR), dr. Danang Nur Adiwibawa, SH., Sp.KJ (K), fenomena tersebut merupakan bagian dari perubahan besar yang sedang terjadi dalam hubungan manusia dengan teknologi.

“Perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir sangat cepat. Layanannya semakin mudah diakses dan mampu memberikan respons yang terasa personal sehingga banyak orang mulai memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan, termasuk berbagi cerita dan mencurahkan perasaan,” ujarnya saat diwawancarai di Mataram, Senin (8/6/2026).

Mengapa Banyak Orang Lebih Nyaman Curhat ke AI?

Menurut dr. Danang, ada beberapa faktor yang membuat AI terasa menarik bagi sebagian orang. Salah satunya adalah kemudahan akses.

Jika sebelumnya seseorang harus mencari orang yang dipercaya atau membuat janji dengan tenaga profesional kesehatan mental, kini percakapan dengan AI dapat dilakukan kapan saja melalui telepon genggam.

Selain itu, AI menawarkan ruang yang dianggap aman dari penilaian sosial. Banyak orang merasa khawatir dicap lemah, berlebihan, atau tidak mampu menyelesaikan masalah ketika bercerita kepada orang lain. Sebaliknya, AI memberikan respons tanpa ekspresi, tanpa prasangka, dan tanpa stigma.

“AI tidak menghakimi. Apa pun yang disampaikan akan tetap direspons. Hal ini membuat sebagian orang merasa lebih aman untuk membuka diri,” jelasnya.

Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk, respons instan yang diberikan AI juga menjadi daya tarik tersendiri. Ketika seseorang membutuhkan teman bicara pada larut malam atau saat tidak ada orang yang dapat dihubungi, AI selalu tersedia selama 24 jam.

AI Bisa Membantu, Tetapi Tidak Bisa Menggantikan Hubungan Manusia

Sebagai seorang psikiater, dr. Danang menilai AI dapat memberikan manfaat tertentu dalam menjaga kesehatan mental, terutama untuk membantu refleksi diri.

AI dapat membantu seseorang mengenali emosi yang sedang dirasakan, menyusun pikiran yang berantakan, melakukan journaling, hingga memperoleh informasi awal mengenai kondisi psikologis yang dialami.

Namun, ia menegaskan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan mendasar.

“AI hanyalah alat bantu. Ia tidak memiliki pengalaman hidup, empati, maupun pemahaman emosional seperti manusia. Karena itu AI tidak bisa menggantikan hubungan sosial yang nyata,” katanya.

Menurutnya, setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan kondisi psikologis yang berbeda. Kompleksitas tersebut sering kali tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh sistem kecerdasan buatan.

Karena itu, penggunaan AI sebaiknya ditempatkan sebagai pendamping, bukan pengganti hubungan dengan keluarga, sahabat, maupun tenaga profesional kesehatan mental.

Ketika AI Menjadi Tempat Bergantung

Di balik manfaat yang ditawarkan, penggunaan AI secara berlebihan juga berpotensi menimbulkan ketergantungan psikologis.

Dr. Danang menjelaskan bahwa dalam dunia kesehatan jiwa dikenal berbagai bentuk behavioral addiction atau kecanduan perilaku, seperti kecanduan media sosial, gim daring, hingga perjudian online. Ketergantungan terhadap AI dapat muncul ketika seseorang mulai merasa tidak mampu mengambil keputusan atau mengelola emosi tanpa bantuan teknologi tersebut.

“Jika seseorang mulai bergantung sepenuhnya kepada AI untuk menentukan keputusan hidup, mengatur emosi, atau menyelesaikan semua masalahnya, maka kondisi itu perlu diwaspadai,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pada dasarnya manusia yang sedang bercerita tidak selalu mencari solusi. Yang paling sering dicari adalah rasa dipahami, diterima, dan didengarkan.

Ketika kebutuhan tersebut tidak ditemukan dalam hubungan sosial yang nyata, sebagian orang kemudian mencarinya melalui teknologi.

Meski demikian, dr. Danang mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran psikolog, psikiater, maupun dukungan emosional dari orang-orang terdekat, terutama ketika seseorang mulai mengalami gangguan psikologis yang memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Gangguan tidur berkepanjangan, kehilangan motivasi, serangan panik berulang, kesulitan menjalankan pekerjaan, hingga munculnya pikiran menyakiti diri sendiri merupakan tanda bahwa seseorang membutuhkan bantuan profesional sesegera mungkin.

“Jangan hanya mengandalkan AI ketika kondisi sudah berat. Segeralah mencari bantuan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan mental yang kompeten agar mendapatkan penanganan yang tepat,” tegasnya.

Fenomena curhat kepada AI menunjukkan bahwa teknologi kini mulai memasuki ruang yang sangat personal dalam kehidupan manusia. Namun di balik kecanggihannya, hubungan antarmanusia tetap menjadi fondasi utama kesehatan mental yang tidak dapat digantikan oleh mesin. (*)

Nunung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *