Meriahnya Perayaaan Maulid Nabi di Lombok.

Erakini.News I Mataram- Maulid Adat Sasak merupakan tradisi masyarakat suku Sasak di Lombok untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal secara harmonis .
Bagi suku Sasak di Lombok, peringatan Maulid bukan hanya sekedar seremonial, ini merupakan wujud syukur , rasa cinta kepada Nabi serta sarana untuk menjalin tali silaturrahmi dan memperkuat kebersamaan.
Di Indonesia pada umumnya Maulid Nabi diperingati secara serentak pada tanggal 12 Rabiul Awal. Perayaan Maulid pada tahun ini secara nasional di rayakan pada tanggal 25 Agustus 2016 (12 Rabiul Awal 1448 H). Berbeda dengan Suku Sasak di Lombok yang memperingati Maulid Nabi selama satu bulan penuh pada bulan Rabiul Awal. Maulid Nabi di Lombok diperingati satu bulan penuh, mulai dari tanggal 1 hingga tanggal 30 Rabiul Awal. Dalam jangka waktu satu bulan tersebut, Suku Sasak di Lombok memperingati Maulid Nabi secara bergilir di setiap dusun atau desa. Ini dilakukan agar acara silaturrahmi dengan keluarga yang tinggal di dusun atau desa yang berbeda bisa diundang untuk merayakan Maulid Nabi sekaligus sebagai ajang silaturrahmi.
Jadwal Maulid masing-masing dusun atau desa sudah ditetapkan secara turun temurun. Perayaan dilakukan setiapa hari mulai dari hari Senin hingga hari Minggu kecuali hari Jumat. Dusun atau desa yang mendapat jadwal atau giliran akan mengadakan perayaan maulid bersma secara kolektif di Masjid masing-masing. Di beberapa daerah seperti di kecamatan Batulayar dan kecamatan Gunungsari, kabupaten Lombok Barat, perayaan di Masjid dilaksanakan pada malam hari yaitu bakda sholat isya. Perayaan di Masjid di dominan oleh tamu undangan laki-laki yang terdiri dari keluarga dan sahabat yang tinggal di luar dusun atau desa. Selain mengundang keluarga dan sahabat, tokoh agam dan tokoh adat juga turut diundang untuk memberikan ceramah atau uraian kisah Maulid Nabi Muhammmad SAW. Acara di Masjid dilakukan oleh para laki-laki sedangkan para perempuan bertugas menyiapkan hidangan di rumah masing-masing untuk kemudian diantar ke Masjid untuk disajikan kepada para tamu dan undangan. Sebelum acara begibung atau makan bersama biasanya ada acara ngurisan (seremonial potong rambut pertama bagi bayi ) khatam alqur’an diiringi dengan acara selakaran dan sholawatan. Sedangkan keesokankan harinya acara dlaksanakan di rumah masing – masing, rata-rata tamu yang datang ke rumah adalah tamu perempuan, tamu laki-laki yang tidak sempat datang pada acara malam hari di Masjid juga bisa datang pada siang hari ke rumah warga atau kerabat yang mengundang.
Tamu Perempuan biasany datang membawa beras dan gula putih yang ditaruh didalam baskom. Selain beras dan gula putih, tamu juga bisa membawa hasil kebun seperti pisang dan nangka .Saat pulang baskom tersebut akan diisi dengan nasi, lauq pauk dan jajanan khas Lombok oleh tuan rumah untuk dibawa pulang oleh tamunya sebagai oleh-oleh yang dalam Bahasa Sasak di sebut “Berkat”.
Adapun makanan yang wajib disajikan adalah “Nasi Rasun” yaitu kudapan yang dibuat dari ketan putih yang diberi warna kuning dari kunyit, disajikan bersama taburan kelapa parut yang disangrai dan diberi bumbu. Sedangkan sebagai pendamping ada wajik, iwel, pangan dan aneka kudapan khas Lombok lainnya yang rata-rata terbuat dari adonan beras ketan, gula merah dan dan kelapa. Selain jajajan ada juga juga buah-buahan sebagai pencuci mulut seperti pisang, jeruk, salak, manggis ,semangka dan biasanya didominan oleh buah musiman.
Sedangkan untuk Nasinya biasanya akan dihidangkan dengan lauq yang dominasi oleh daging ayam dan daging sapi yang dimasak dengan bumbu rempah yang lengkap dan berkuah santan. Daging ayam dan daging sapi juga bisa diolah menjadi abon atau sate. Sedangkan untuk sayurnya digunakan sayur khas Suku Sasak seperti Ares, Sayur Nangka Muda dan Sayur Pepaya Muda yang semuanya menggunakan bumbu rempah yang lengkap dan berkuah santan. Seiring dengan berjalannya waktu, kini lauq dan sayur sudah bisa diganti dengan yang lebih simple seperti Ikan Nila goreng atau bakar yang disajikan dengan urap dan pelecing kangkung khas Lombok.
Untuk memeriahkan perayaan Maulid , seminggu sebelum acara inti biasanya para remaja dan remaji masjid di kampung masing-masing akan mengadakan acara lomba di Masjid seperti lomba azan, lomba saritilawah, lomba baca puisisasi, lomba cerdas cermat hingga lomba busana muslim. Semua Pemenang lomba akan diumumkan pada acara puncak maulid nabi pada malam hari di Masjid. Acara lomba tidak berhenti di situ saja, keesokan harinya setelah tamu undangan pada pulang ke rumah masing-masing lomba akan dilanjutka di halaman Masjid atau di lapangan kampung. Mata Lomba pada sore hari biasanya lomba permainan tradisional seperti lomba sendok kelereng, lomba makan kerupuk, lomba lari karung, lomba tarik tambang hingga lomba panjat pinang. Adapun Biaya untuk kegiatan dan hadiah lomba biasanya dikumpulkan oleh warga serta remaja masjid secara suka rela.
Di Lombok Utara, “Mulud Adat Bayan” telah diakuai secara national dan resmi masuk dalam daftar 125 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Berita gembira ini di sampaikan langsung oleh Ketua Dekranasda Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sinta M. Iqbal, pada saat perosesi pembukaan acara Mulud Bayan di desa Bayan, Lombok Utara, Kamis ( 27/8/2026 ).
Sementra di wilayah Kota Mataram, Perayaan “Maulid Adat Mataram” untuk pertama kalinya diadakan secara bersama pada hari Minggu, (6/9/2026) di Kafe Rua Rasa, Rembiga Mataram. Perayaan Maulid Adat Mataram diiniisiasi ole Majelis Adat Mataram (MAS) berkolaborasi dengan pemerintah kota Mataram (dalam hal ini diwakili oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata kota Mataram), Pemerintah Provinsi NTB, jajaran POLRI, TNI dan masyarakat kota Mataram.
Perayaan Maulid Adat Mataram dimeriahkan dengan Festival Dulang Pesaji dan Dulang Penamat yang diikuti oleh perwakilan SD, SMP dan SMA Sederajat dari seluruh Kelurahan se kota Mataram.
Dulang Pesaji yaitu hidangan utama berupa nasi dan lauq pauq yang disajikan dalam nampan atau baki untuk dimakan bersama tamu undangan di lokasi acara.
Sedangkan Dulang penamat merupakan sajian penutup yang disususn menyerupai gunungan yang berisi jajanan tradisional dan aneka buah-buahan yang disipkan untuk dibawa pulang oleh tamu undangan setelah rangkaian acara adat atau keagamaan selesai.
Menurut ketua panitia Mulud Adat Mentaram H. Lalu Mahdaraen Dulang penamat sering disebut sebagai “Berkat” atau barokah karena sudah didoakan.
“Dengan membawa pulang berkat tersebut diharapkan orang ynag membawanya pulang dan keluarga yang memakannya di rumah juga bisa mendapat barokah.” jelas H. Lalu Mahdaraen
Untuk Acara Inti Maulid Adat Mataram diisi dengan acara uraian hikmah maulid, doa dan pembacaan sholawat bersama yang dipimpin oleh tokoh adat dan tokoh agama. Aneka sambutan dari Wali Paer Bawak Kota Mataram, Pengrakse Agung Majelis Adat Sasak dan perwakilan dari Walikota Mataram dan perwakilan dari Gubernur NTB.
Rangkaian Acara diakhiri dengan acara Begibung yaitu acara makan bersama seluruh tamu undangan dan peserta sebagai wujud kebersamaan , silaturrahmi dan semangat persaudaraan dalam perayaan Maulid Adat.
“Sebagai warga Lombok, kita wajib bersyukur dan bangga karena memiliki adat dan tradisi yang beraneka ragam yang bisa selaras dan harmonis dalam kehidupan beragama. Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga, melestarikan dan mewarisi adat dan tradisi semacam ini kepada generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Karena itu, kami sangat berharap agar acara Maulid Adat Mataram ini bisa diagendakan oleh pemerintah Kota Mataram sebagai acara tahunan.” ungkap H. Lalu Mahdaraen yang juga menjabat sebagai ketua aliansi Masyarakat Adat Nusantara ini.

