FILOSOFI BERUGAK LOMBOK

BERUGAQ merupakan bangunan berupa panggung terbuka bertiang empat (sekepat) atau enam (sekenem) yang merupakan tradisional khas Lombok.

BERUGAQ merupakan bangunan berupa panggung terbuka bertiang empat (sekepat) atau enam (sekenem) yang merupakan tradisional khas Lombok. Sebagian besar aktifitas masyarakat Lombok di lakukan di berugak seperti duduk berkumpul bersama keluarga, tempat bermusyawarah, tempat tidur, tempat makan, mengaji dan baca alqur’an hingga tempat menerima tamu.

Berugaq biasanya diletakkan di halaman rumah tempat terbuka dan tanpa dinding, hal ini melambangkan keterbukaan dan keramahan masyarakat Lombok terhadap siapa aja.

Seiring berjalan waktu, berugak sekarang hanya digunakan sebagai tempat menerima tamu dan duduk-duduk santai bersama keluarga.

Pak Saeun Pengusaha Berugaq

Berugak bisa ditemukan hampir di semua halaman rumah masyarakat Lombok. Sehingga membuat permintaan berugak setiap harinya kian meningkatat. Besarnya permintaan ini membuat para perajin (pengusaha) berugak di sentra-sentra produksi berugak seperti di desa Taman Sari kecamatan Gunungsari, Lombok Barat semakin bergairah meningkatkan kinerja agar mampu melayani pesanan yang makin meningkat.
Kini, permintaan berugak tidak hanya datang dari masyarakat lokal tetapi permintaan juga datang dari luar daerah bahkan luar negeri. Berugak tidak hanya di temukan di halaman rumah warga tapi juga banyak ditemukan di restoran, hotel dan tempat-tempat rekreasi lainnya.

Ramainya permintaan inilah yang membuat Pak Saeun berlaih dari pengusaha kayu menjadi pengusaha berugak. Menurut Saeun, kaum laki-laki desa Tamansari selain berprofesi sebagai pedagang dan petani, rata-rata memiliki kemampuan sebagai tukang kayu, khususnya membuat Berugaq. “Saat ini saja, ada puluhan usaha kerajinan Berugaq di Desa Tamansari,” katanya.

Saeun melanjutkan “Peminat Berugaq buatan Desa Tamansari selain warga lokal, masyarakat luar daerah seperti Bali,Jakarta, Bandung, Surabaya, Batam, Labuan Bajo dan daerah-daerah lainnya juga banyak. Bahkan dari luar negeri seperti Malaysia, Jepang, Australia, dan Negara-negara Eropa”
Dahulu berugak dibuat dengan 2 ukuran saja yaitu 2×2 m dengan empat tiang dalam bahasa sasak disebut sekepat , dan berugak yang ukuran 2x4m dengan enam tiang disebut sekenem. Tapi sekarang ukuran berugak lebih bervariasi ada yang berukuran 2x3m bahkan ada berugak mini dengan ukuran 1,5×2 m. Ukuran berugak ini disesuaiakan dengan space atau luasnya halaman.

“ Soal harga tergantung dari bahan kayu yang digunakan, semakin baik kualitas kayu yang dipakai, maka harganya pun semakin mahal. Biasanya bahan kayu lokal lebih murah dibandingkan dengan bahan kayu Kalimantan. Atap Berugaq juga sangat mempengaruhi harga, berugak dengan atap ilalang jauh lebih mahal daripada dengan atap genteng, atau seng. Atap genteng lebih diminati oleh permintaan pribadi untuk di rumah-rumah karean lebih awet dan genteng yang digunakan sekarang bukan genteng tanah melainkan genteng metal atau multiroop. Sedangakan kalo untuk restoran dan hotel mereka cenderung memesan Berugak dengan atap ilalang biar keliatan lebih tradsional dan lebih aestetik.” Jelas Saeun.

Saeun juga menjelaskan bahwa bangunan Berugak dibuat degan sistem bongkar pasang, alias knock down. Perakitan Berugaq tidak menggunakan paku besi. Masing-masing sudut dibuat simetris, dan saling mengikat. Agar tidak goyang, cukup dikuatkan menggunakan pasak kayu saja, sistem knock down juga memudahkan pengemasan materi Berugaq, sebelum di kirim ke tempat tujuan.

(Ayu Asri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *