Ratusan Anak Penyu  (Tukik) akan Segera dirilis di Pantai Mapak

H. Awan bersama team saat menerima kunjungan dari salah satu sekolah alternatif di Inggris

Pada bulan Juli 2026, Yayasan Pecinta Penyu Mapak akan segeran merilis (melepas) penyu di pantai Mapak. Diharapkan semua kalangan terutama pemerintah daerah (para pejabat) asosiasi pariwisata, pengusaha dan tokoh masyarakat  bisa berpartisipasi dalam acara pelepasan tukik  (anak penyu) di pantai Mapak Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB)

H. Mahendra Irawan sedang mempersiapkan telur-telur penyu untuk ditetaskan di dalam inkubator

Ketua Yayasan Pecinta Penyu Mapak H. Mahendra Irawan  menjelaskan bahwa diperlukan perhatian yang besar  dan publikasi yang luas dalam acara pelepasan anak penyu agar semua masyarakat termasuk para pelaku pariwisata, tamu, anak –anak peserta didik mulai dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi bisa menyaksikannya dan bisa mendapat  edukasi  yang  tepat dan benar tentang keberadaan penyu mulai dari asal usul atau sejarah penyu, jenis penyu, cara perawatan hingga manfaat penyu bagi ekosistem .

“Bagi teman – teman, sekolah, tamu, pejabat, pengusaha, tokoh mayarakat  dan yang lainnya yang mau berpartisipasi merilis tukik dipersilahkan untuk menghubungi Yayasan Pencinta Penyu Mapak, Mataram.” Ungkap peria yang akrab dipanggil H. Awan tersebut

Anak2 penyu (tukik) yang siap dirilis

Penyu merupakan salah satu satwa purba tertua di bumi. Pada zaman purba terdapat sekitar 127 jenis penyu di dunia,  yang tersisa hingga saat ini  hanya 7 jenis saja dan 6 diantaranya terdapat di Indonesia. Jenis penyu yang ada di Indonesia adalah Penyu hijau (Chelonia mydas), Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu pipih (Natator depressus) dan Penyu tempayan (Caretta caretta). Penyu belimbing adalah penyu yang terbesar dengan ukuran panjang badan mencapai 2,75 meter dan bobot 600 – 900 kilogram. Sedangkan penyu terkecil adalah penyu lekang, dengan bobot sekitar 50 kilogram.

“Kita sebagai warga masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya warga Mataram sepatutnya bersyukur dan bangga karena dari 6 jenis penyu  yang ada di Indonesia, 5 diantaranya terdapat di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan 3 diantaranya terdapat di Perairan  Mataram yaitu penyu hijau, penyu sisik dan penyu lekang.” jelasnya

Peran penyu dalam ekosistem laut sangatlah penting dalam menjaga ekosistem laut yang sehat. Laut yang sehat akan menjadi habitat berjuta-juta ikan sebagai sumber protein penting bagi manusia. Setiap jenis penyu memiliki fungsi pengayaan keanekaragaman hayati dalam lingkungan laut. Peran penting penyu dalam menjaga kesehatan laut antara lain; merumput (lamun), mengontrol distribusi spons, memangsa ubur-ubur, mendistribusikan nutrisi dan mendukung kehidupan mahluk air yang lain.

“Berawal dari rasa syukur, bangga sekaligus keperdulian kami akan kelestarian ekosistem laut  dan menjaga habitatnya terutama penyu, maka  pada tahun 2016 kami membentuk Komunitas  Pecinta Penyu Mapak (KP2M) dan membuka lahan konservasi di pantai Mapak dengan tema Ecowisata dan Travel Edukasi. Melalui Ecowisata dan Travel Edukasi kami mengajak semua masyarakat dari semua kalangan terutama anak-anak mulai dari tingkat Sekolah Dasar  sampai Perguruan Tinggi untuk belajar tentang penyu mulai dari asal usul penyu dan sejarah penyu, jenis penyu, perawatan, pengembangbiakan, peran penyu bagi ekosistem hingga merilis penyu” jelas H. Awan

“Namun karena abrasi besar-besaran yang terjadi pada bulan Januari  2025, konservasi pecinta penyu direlokasi ke rumah. Di rumah kami menggunakan alat berupa inkubator ( Intan Box ) untuk peroses pengeraman hingga penetasan. Hasil yang diperoleh dengn Intan Box jauh lebih bagus dan lebih banyak dibanding dengan cara pengeraman dan penetasan secara alami di dalam pasir. Dengan Intan Box kami bisa meminimalkan resiko kegagalan dan bisa mengatur suhu sendiri sehingga bisa  mencetak jenis kelamin sesuai dengan yang kami inginkan.” Jelasnya.

H. Awan juga menjelaskan bahwa dalam konservasi penyu ini tentunya tidak bisa berdiri sendiri, diperlukan  dukungan dari semua pihak terutama dari Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) maupun dari Pemerintah Daerah Kota Mataram.” Kami sangat berharap agar pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Perikanan dan Kelautan maupun Dinas Pariwisata, bisa memberikan perhatian lebih kepada yayasan konservasi seperti kami ini agar tetap bisa bertahan di kondisi sulit seperti sekarang ini.” Himbaunya.

(Ayu Asri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *