Masa Depan Bernama Kebudayaan

“Peradaban tidak lahir dari beton dan baja. Ia tumbuh dari gagasan, nilai, dan kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.”
Setiap zaman memiliki ukuran tentang kemajuan. Pada abad ke-19, kemajuan diukur dari seberapa besar wilayah yang dikuasai. Abad ke-20 menjadikan industrialisasi sebagai simbol kejayaan. Memasuki abad ke-21, teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan inovasi menjadi kata-kata yang paling sering diucapkan ketika berbicara tentang masa depan.
Namun di tengah perubahan yang begitu cepat, ada satu pertanyaan yang semakin penting untuk dijawab: ketika semua bangsa memiliki akses pada teknologi yang sama, ketika kecerdasan buatan mampu menulis, melukis, menerjemahkan, bahkan membantu mengambil keputusan, apa yang membuat sebuah bangsa tetap berbeda dari bangsa lain?
Jawabannya bukan lagi semata-mata teknologi.
Jawabannya adalah identitas.
Dan identitas itu dibangun oleh kebudayaan.
Selama ini kita sering menempatkan kebudayaan sebagai cerita tentang masa lalu. Kebudayaan identik dengan museum, tarian tradisional, rumah adat, manuskrip kuno, festival budaya, atau upacara adat. Semua itu penting. Namun apabila kebudayaan hanya dipahami sebagai sesuatu yang diwarisi dan disimpan, maka kita sedang membatasi maknanya.
Kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu.
Kebudayaan adalah cara sebuah masyarakat menciptakan masa depannya.
Inilah perubahan cara berpikir yang perlu kita bangun. Kebudayaan tidak boleh lagi dipandang sebagai sektor pembangunan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai perspektif yang memberi arah bagi seluruh proses pembangunan. Pendidikan memerlukan kebudayaan agar melahirkan manusia yang berkarakter. Pariwisata memerlukan kebudayaan agar memiliki identitas. Ekonomi memerlukan kebudayaan agar menghasilkan nilai tambah. Bahkan teknologi membutuhkan kebudayaan agar tetap berpihak kepada manusia.
Dengan kata lain, kebudayaan bukan pelengkap pembangunan.
Kebudayaan adalah jiwa pembangunan.
Sejarah dunia memberikan pelajaran yang sangat jelas. Jepang tidak kehilangan kejepangannya ketika menjadi negara industri. Korea Selatan tidak hanya mengekspor telepon genggam dan kendaraan, tetapi juga musik, film, kuliner, desain, dan gaya hidup yang menggerakkan ekonomi nasional. Italia menjadikan sejarah, seni, dan warisan budayanya sebagai sumber daya yang terus menghasilkan nilai ekonomi hingga hari ini.
Mereka tidak menjadikan kebudayaan sebagai kenangan.
Mereka menjadikan kebudayaan sebagai masa depan.
Indonesia memiliki peluang yang jauh lebih besar. Dengan ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, tradisi, manuskrip, pengetahuan lokal, seni, dan cagar budaya, Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara. Kekayaan itu bukan sekadar peninggalan nenek moyang, tetapi investasi strategis untuk membangun masa depan bangsa.
Karena itulah, saya meyakini bahwa abad mendatang bukan lagi sekadar kompetisi teknologi.
Ia akan menjadi kompetisi identitas.
Teknologi dapat dipelajari. Mesin dapat dibeli. Kecerdasan buatan dapat digunakan oleh siapa saja. Tetapi identitas budaya tidak dapat disalin. Ia tumbuh dari sejarah, pengalaman, nilai, dan cara hidup yang dibangun selama ratusan tahun.
Bangsa yang mampu menjaga identitasnya akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan dunia.
Di sinilah Nusa Tenggara Barat memiliki peluang yang luar biasa.
Di antara lereng Rinjani dan kaki Tambora, di pesisir yang menghadap Samudra Hindia hingga Laut Flores, hidup masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo yang selama berabad-abad membangun peradabannya melalui gotong royong, pengetahuan tradisional, seni, bahasa, wastra, arsitektur, ritus, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Kekayaan itu tidak boleh berhenti sebagai cerita sejarah.
Ia harus menjadi energi pembangunan.
Visi NTB Makmur Mendunia akan memiliki makna yang lebih utuh apabila kemakmuran ekonomi berjalan seiring dengan kemajuan kebudayaan. Sebab kemakmuran tanpa identitas akan melahirkan masyarakat yang kehilangan akar, sedangkan kebudayaan tanpa kesejahteraan akan sulit bertahan menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, pembangunan masa depan tidak cukup hanya membangun jalan, pelabuhan, kawasan industri, atau destinasi wisata. Semua itu penting. Namun yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap pembangunan memperkuat karakter masyarakat, menjaga identitas daerah, dan memberi ruang bagi kebudayaan untuk terus hidup.
Di sinilah kita memerlukan paradigma baru.
Museum, misalnya, tidak lagi dipahami sebagai gudang benda-benda kuno. Museum harus menjadi ruang belajar, ruang dialog, pusat inovasi, laboratorium kebudayaan, dan tempat lahirnya gagasan baru. Cagar budaya tidak cukup dipagari dan didaftarkan. Ia harus dihidupkan melalui penelitian, pendidikan, ekonomi kreatif, dan partisipasi masyarakat. Manuskrip kuno tidak hanya disimpan di rak, tetapi didigitalisasi agar pengetahuan yang dikandungnya dapat menginspirasi generasi masa depan.
Demikian pula dengan wastra. Tenun, songket, atau kain tradisional bukan sekadar pakaian. Di dalam setiap helai benangnya tersimpan cerita tentang alam, perempuan, keluarga, perdagangan, kepercayaan, dan perjalanan sebuah masyarakat. Ketika seseorang mengenakan wastra daerah, sesungguhnya ia sedang membawa identitas bangsanya ke ruang publik.
Begitu pula tradisi.
Tradisi bukanlah kebiasaan lama yang menghambat modernitas. Tradisi adalah teknologi sosial yang telah diuji oleh waktu. Banyak kearifan lokal tentang pengelolaan air, pertanian, pelestarian hutan, penyelesaian konflik, hingga kehidupan bermasyarakat yang justru semakin relevan di tengah berbagai tantangan global saat ini.
Karena itu, tugas kita bukan memilih antara tradisi atau modernitas.
Tugas kita adalah mempertemukan keduanya.
Teknologi harus membantu kebudayaan berkembang, bukan menggantikannya. Kecerdasan buatan harus membantu mendokumentasikan bahasa daerah, mempercepat digitalisasi manuskrip, memperluas akses terhadap museum, dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada dunia. Masa depan bukan tentang manusia melawan teknologi, melainkan manusia yang menggunakan teknologi untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaannya.
Dalam perspektif inilah kebudayaan tidak lagi menjadi urusan Dinas Kebudayaan semata. Kebudayaan adalah urusan pendidikan ketika membentuk karakter peserta didik. Kebudayaan adalah urusan ekonomi ketika menciptakan produk yang memiliki nilai tambah. Kebudayaan adalah urusan pariwisata ketika menghadirkan pengalaman yang otentik. Kebudayaan adalah urusan lingkungan ketika menjaga harmoni antara manusia dan alam. Bahkan kebudayaan adalah urusan birokrasi ketika menghadirkan pelayanan publik yang menghormati nilai, etika, dan martabat manusia.
Dengan demikian, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi, “Apa program kebudayaan tahun ini?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah setiap kebijakan pembangunan sudah mencerminkan kebudayaan kita?”
Sebab kebudayaan sesungguhnya diproduksi setiap hari. Cara kita mendidik anak, melayani masyarakat, membangun kota, memanfaatkan teknologi, merawat lingkungan, hingga menghargai perbedaan, semuanya sedang menciptakan kebudayaan baru.
Kita bukan hanya pewaris kebudayaan.
Kita adalah pencipta kebudayaan bagi generasi yang belum lahir.
Mungkin seratus tahun dari sekarang tidak ada lagi yang mengingat siapa yang memimpin daerah ini, siapa yang membangun sebuah gedung, atau siapa yang meresmikan sebuah jalan. Tetapi generasi mendatang akan hidup dalam bahasa yang kita selamatkan, nilai yang kita wariskan, museum yang kita hidupkan, manuskrip yang kita rawat, wastra yang kita banggakan, dan cagar budaya yang kita jaga.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa banyak bangunan yang kita dirikan. Sejarah akan bertanya apa yang kita tinggalkan.
Jika yang kita tinggalkan adalah masyarakat yang tetap mengenal jati dirinya, mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan akar budayanya, serta menjadikan kebudayaan sebagai sumber kreativitas, kesejahteraan, dan persatuan, maka kita tidak hanya sedang membangun daerah. Kita sedang membangun peradaban.
Sebab pembangunan dapat diselesaikan dalam satu masa pemerintahan. Peradaban dibangun lintas generasi.
Dan masa depan yang paling kokoh adalah masa depan yang bertumbuh dari akar kebudayaannya sendiri.
Karena itulah, ketika kita berbicara tentang hari esok, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang satu hal yang paling mendasar.
Masa depan memang bernama kebudayaan.
(Muhamad Ihwan, Kadis Kebudayaan NTB)
