Rebo Bontong

Rebo Bontong merupakan tradisi turun temurun masyarakat Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat ( NTB) yang diselenggarakan sekali dalam satu tahun. “Rebo Bontong” berasal dari dua kata yaitu “Rebo” yang berarti “hari Rabu” dan Bontong yang berarti “ terakhir “. Jadi seperti namanya kegiatan “Rebo Bontong” dilaksanakan setiap hari Rabu terakhir pada bulan Safar.

Karena diselenggarakan pada bulan Safar, masyarakat sasak sering menyebut kegitana Rebo Bontong dengan sbutan “Safaran” . Selain itu, Rebo Bontong juga disebut dengan istilah “Mandi Safar” karena kegiatan Rebo Bontong identik dengan kegaiatan Mandi Bersama yang dilakukan pada bulan Safar di pantai, sungai , pancuran atau mata air lainnya.

Ritual Mandi Safar

Kenapa Ritual tolak bala ini dilaksanakan pada akhir bulan Safar dan kenapa harus diadakan ritual mandi besama atau membersihkan diri ?

Menurut Pengrakse Agung Majlis Sasak (Budayawan Sasak) Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan,SH.,MH, pada bulan Safar cenderung terjadi banyak cobaan dari Allah SWT berupa masalah dan banyak penyakit, sehingga perlu dilakukan ritual “Mandi Bersama” untuk membersihkan jiwa dan raga dari segala macam penyakit raga maupun penyakit hati.

Ritual Rebo Bontong dimulai pada Selasa malam dengan sholat hajat, zikir dan do’a bersama untuk memohon perlindungan, kesehatan, keselamatan, umur panjang dan dijauhkan dari segala macam penyakit, mala petaka dan mara bahaya. Sedangkan Ritual mandi bersama dilakukan keesokan harinya.

Ritual Rebo Bontong kali ini difokuskan di Kemalik Lingsar Rabu, (12/8/ 2026 ), dihadiri para tokoh agama, tokoh masyarakat , budayawan dari Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan masyarakat umum.

Pada malam berikutnya, Ritual Rebo Bontong dilanjutkan dengan Sarasehan bersama Siswa Siswi SMA dan SMK yang berada seputran Lingsar dan sekitarnya. Para Siswa siswi diajak untuk lebih mengenal adat dan tradisi sasak khususnya tradisi Rebo Bontong dari segi adat, agama dan kemasyarakatan.

“Para leluhur kita dengan susah payah sudah menciptakan dan merawat hingga mewarisi berbagai tradisi dan ritual guna menjalin kebersmaan dan persaudraan serta mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Maka sebagai pewaris dan genersai muda sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu menjaga, memelihara dan melestarikan apa yang telah diturunkan oleh para leluhur kita” ujar pria kharismatik yang sering disapa dengan sebutan Mamik Sajim ini.

(Ayu Asri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *