Seutas Kisah Korban Selamat Saat Insiden Kebakaran KMP Putri Yasmin

Erakini.News I Lombok Barat – Insiden terbakarnya kapal penumpang KMP Putri Yasmin di perairan Selat Lombok Rabu (12/8/2016) yang lalu meninggalkan kisah mendalam yang tidak akan terlupakan terutama bagi korban yang selamat saat insiden itu.
Menurut Kepala Kantor SAR Mataram Muhamad Hariyadi, total ada 216 orang korban. 212 Korban yang telah berhasil dievakuasi dengan rincian 211 orang selamat dan 1 orang meninggal dunia, sedangkan 4 orang lainnya belum ditemukan hingga saat ini (26/8/26).
“ Alhamdulillah semua korban selamat telah kembali kepada keluarga mereka masing-masing, sedangkan 4 orang korban yang belum kita temukan masih tetap dalam pantauan team kita. ” ungkap Hariadi.

Adapun para korban berhasil dievakuasi oleh beberapa kapal diantaranya; 35 korban dievakuasi oleh kapal Portlink II, 59 korban oleh RB 220 Mtr, 18 oleh Kal Lembar, 58 korban oleh kapal No Comment, 39 oleh Parama Kalyani semuanya korban selamat. Sedangkan 3 korban yang dievakuasi oleh kapal Steel Hear, 2 orang selamat dan 1 orang meninggal.
Septi adalah adalah salah satu korban selamat pada insiden tersebut yang berhasil dievakuasi oleh kapal Portlink II yang saat itu berlayar dari Pelabuhan Lembar, Lombok menuju Pelabuhan padangbai, Bali.

Septi saat itu kebetulan pergi liburan seorang diri ke Bali selama satu hari. Di Bali Septi bertemu dengan temannya. Karena Septi ke Bali pake motor dan hanya sendirian , temannya itu pun akhirnya ikut pulang ke Lombok bersama Septi. Saat mau balik ke Lombok malam itu, sebenarnya Septi sempat ragu dan dianjurkan sama temannya untuk balik keesokan harinya. Tapi karena keadaan darurat akhirnya Septi dan temannya memutuskan untuk nyeberang ke Lombok malam itu juga. Sampai di Pelabuhan Septi sempat gak yakin lagi untuk nyeberang karena menurut Septi malam itu ombaknya lumayan besar. Tapi karena keadaan memaksanya harus nyeberang malam itu juga.
Akhirnya Septi menyeberang dengan menumpang Kapal KMP Putri Yasmin. Kapal berangkat sekitar pukul 12.00, sampai kapal Septi mengaku sangat ngantuk hingga tertidur nyenyak sekali. Sekitar pukul 3.30 dini hari dia dibangunkan sama ABK dan disuruh siap-siap karena keadaan darurat. Menurut Septi, situasi diatas kapal saat itu sangat mencekam terlebih-lebih setelah terdengar alarm tanda bahaya berbunyi. ABK menyarankan agar seluruh penumpang mengenakan pelampung dan penumpang diarahkan agar naik ke atap atau dek atas.
“Setelah di atap itulah saya baru menyadari sepenuhnya kalo ternyata sekitar setengah bagian badan kapal sudah terbakar, badan kapal sudah dipenuhi oleh asap tebal yang membuat kami semakin panik dan sesak.”ungkap Septi
Para penumpang di himbau untuk tetap tenang dan waspada sementara para ABK berusaha memadamkan api. Namun sekitar satu jam kemudian ABK mengumumkan kalo kapal sudah tidak bisa diselamatkan lagi hingga seluruh penumpang di suruh menyelamatkan diri dengan melompat ke laut.
“Di tengah-tengah kepanikan dan pada saat mau lompat saya liat ada kapal dari kejauhan, saya berniat untuk melompat kalo kapal itu sudah dekat, namun karena jarak pandang yang terbatas saya gak yakin kalo kapal itu mendekat atau menjauh. Tapi saya sudah tidak punya pilihan lain, maka dengan seluruh keberanian yang tersisa akhirnya saya sama teman saya dan sekitar 33 penumpang lainnya terpaksa melompat. Saat melompat itu, saya tegang banget saya hanya bisa pasrah. Saat melayang di udara, nyawa saya juga serasa ikut melayang.” kenang cewek tangguh dari desa Sesela, kecamatan Gunungsari tersebut.
“Setelah terombang ambing di laut sekitar satu jam lebih, akhirnya saya dan teman saya serta 33 penumpang lainnya diselamatkan oleh kapal penumpang “Portlink II “ yang berlayar dari Lombok ke Bali. Sampai di Bali dicek kesehatan, setelah dipastikan sehat, akhirnya kami pun dibawa kembali ke pelabuhan Lembar, Lombok. Setelah di data oleh petugas di Pelabuhan Lembar akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing dengan membawa cerita yang tidak akan terlupakan.” ungkap Septi
(Ayu Asri)
