Silaturahmi dan Penyamaan Konsep Kongres Internasional I Bahasa Sasak

Erakini.news I Mataram – Panitia Kongres Internasional I Bahasa Sasak menggelar rapat koordinasi bersama lima pengurus paer atau wilayah Sasak, yaitu Paer Timuq, Paer Tengaq, Paer Baret, Paer Bawaq, dan Paer Daye. Kegiatan tersebut diikuti oleh 25 peserta sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan Kongres Internasional I Bahasa Sasak.
Rapat koordinasi ini menjadi forum penting untuk memperkuat komunikasi, menyatukan gagasan, serta memastikan kesiapan seluruh unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan kongres. Kehadiran lima pengurus paer menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan bahasa Sasak melalui forum internasional.
Turut hadir Ketua Majelis Adat Sasak, Dr. Lalu Sajim Sastrawan, M.H. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pertemuan tersebut tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga ajang silaturahmi dan penguatan persamaan konsep Kongres Internasional I Bahasa Sasak.
“Pertemuan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus upaya untuk memperkuat kesamaan konsep Kongres Internasional I Bahasa Sasak. Kesamaan pemahaman antarpanitia dan pengurus paer sangat penting agar kongres dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, kongres tersebut memiliki arti penting bagi pelestarian dan pengembangan bahasa Sasak. Selain menjadi ruang akademik dan kebudayaan, kongres ini diharapkan dapat memperkuat identitas masyarakat Sasak serta mendorong penggunaan bahasa Sasak di berbagai bidang kehidupan.

Dorong Diskusi Terbuka
Hadir pula Prof. Dr. H. Mahyuni, M.A., selaku narasumber pada kongres. Ia menekankan pentingnya membuka ruang diskusi yang luas dan terbuka dalam proses persiapan kongres.
Menurut Prof. Mahyuni, masukan dari para narasumber dan peserta perlu dihimpun secara serius untuk menyempurnakan konsep dan pelaksanaan kongres. Diskusi terbuka dinilai penting agar setiap gagasan, kritik, dan rekomendasi dapat menjadi bahan untuk perbaikan.
“Kita harus membuka ruang diskusi terbuka terkait masukan dari narasumber dan peserta kongres. Dengan demikian, konsep dan pelaksanaan kongres dapat disempurnakan secara bersama-sama,” katanya.
Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dapat berkontribusi aktif, baik dalam penyusunan agenda, penentuan tema, pemilihan narasumber, maupun perumusan rekomendasi kongres. Keterlibatan berbagai unsur dinilai akan memperkaya perspektif dan memperkuat hasil kongres.
Kongres Harus Profesional dan Terstruktur
Sementara itu, Prof. Dr. H. Nuriadi, M.Hum., menyampaikan bahwa Kongres Internasional I Bahasa Sasak harus dilaksanakan secara profesional dan terstruktur. Menurutnya, penyelenggaraan kongres berskala internasional membutuhkan perencanaan yang matang, pembagian tugas yang jelas, serta koordinasi yang berkelanjutan.
“ Kongres ini harus dilaksanakan secara profesional dan terstruktur. Setiap tahapan perlu dipersiapkan dengan baik agar tujuan kongres dapat tercapai,” ungkapnya.
Ia menambahkan, profesionalitas penyelenggaraan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga mencakup kualitas materi, kesiapan panitia, pengelolaan peserta, publikasi, dokumentasi, serta tindak lanjut hasil kongres.
Rapat koordinasi juga dihadiri oleh perwakilan paer Sasak, yaitu Paer Bawaq (Lalu Mahdarain, S.T.), Paer Bat (Raden Muh. Rais), Paer Daya (Kamardi, S.Pd.), Paer Tengaq (Lalu Ikhsan), dan Paer Timuq (Lalu Ali Yudia). Para wakil paer menyampaikan karakteristik dan keunikan base Sasak di masing-masing daerah, dan sepakat untuk mengusung bentuk standar base Sasak yang akan dideklarasikan pada kongres nanti.
Rapat koordinasi tersebut diharapkan menghasilkan kesepahaman bersama mengenai arah, konsep, dan mekanisme pelaksanaan Kongres Internasional I Bahasa Sasak. Sinergi antara panitia, lima pengurus paer, dan Majelis Adat Sasak (*)
