Sumping Perenggi Jajanan Khas Lombok yang Hampir Punah

Sumping perenggi adalah jajanan pasar tradisional khas  Lombok yang berbahan dasar labu kuning (disebut perenggi dalam bahasa Sasak ). Teksturnya yang lembut dengan rasa manis alami membuat jajanan terasa lezat, gurih dan legit.

Bahan utama  sumping perenggi adalah labu kuning  yang sudah benar-benar tua, tepung beras, kelapa parut dan  gula merah. Cara pembuatnnya cukup simel yaitu Labu yang di parut kasar di campur dengan adonan tepung beras,  kelapa parut dan gula merah. Bagi yang suka manis bisa ditambahkan sedikit gula pasir. Adonan yang sudah jadi, kemudian dibungkus dengan daun pisang memanjang (seperti bungkus naga sari) kemudian dikukus hingga matang.

Di samping rasanya yang lezat, tampilan sumping perenggi juga sangat menarik, warnanya yang kuning keemasan  ditambah  perpaduan wangi labu dan gulah merah serta daun pisang yang dikukus sangat menggugah selera siapa pun yang melihat dan mencium wanginya.

Di berbagai daerah di Indonesia, kue ini memiliki sebutan yang berbeda-beda, seperti sumping waluh di Bali, lemet di Jawa Timur, lapek labu di Minang, hingga pais waluh di Kalimantan.

Keberadaan Sumping perenggi di Lombok sudah jarang ditemui karena terlgerus oleh pesona kue-kue kekinian. Padahal kalo diadu soal rasa sumping perenggi tidah kalah lezat dengan kue-kue jaman now.

Hj. Fauziah, membuat sumping dengan cara tradisonal dan peralatan serba sederhana

Hj. Fauziah adalah satu-satunya pembuat sumping perenggi di dusun Puncangsari Barat, Desa Sandik, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, yang masih eksis hingga saat ini. Sekitar  5 (lima) tahun yang lalu awalnya Hj. Fauziah membuat sumping perenggi saat ada acara kawinan tetangganya, ternyata kue buatannya sangat enak dan disukai oleh para tetangga dan tamu undangan di acara kawinan tersebut. Semenjak saat itulah para tetangga meminta Hj. Fauziah membuat lebih banyak lagi untuk dijual dengan cara dititip di warung-warung tetangga. Pesanan pun sering datang dari para tetangga dan pelanggan yang mau ada acara arisan, kawinan dan acara-acara besar lainnya.

“Sehari – hari saya hanya membuat sekitar 5 – 10 kg labu, tergantung pesanan. Karena  labu kuning merupakan tanaman yang hidup pada musim-musim tertentu, membuat saya kadang-kadang kesulitan mendapat  labu di pasar, kalau lagi tidak musim, harganya pasti lebih mahal.”  ungkap  Hj. Fauziah.

Dalam peroses pembuatan Hj. Fauziah masih mempertahankan cara-cara tradisional dan untuk mengukus pun masih menggunakan tungku kayu bakar. “mengukus di atas tungku kayu bakar akan menghasilkan rasa yang lebih khas.” ujarnya

Karena kurangnya promosi, jajanan tradisional ini  jadi kurang dikenal terutama di mata anak-anak muda jaman now. Diperlukan perhatian dan kerjasama dari semua pihak terutama pemerintah untuk memperkenalkan  jajanan tradisional  ini biar tetap lestari dan tidak punah, misalnya dengan cara  mengadakan pameran dan bazar kuliner dengan menggandeng para pelaku  UMKM untuk menyediakan jajanan ini. Kerjasama dengan pengusaha café, restoran dan hotel juga tidak kalah penting, pengusaha bisa menghidangkan jajanan ini ke para tamu agar jajanan seperti ini bisa bangkit kembali, lebih  dikenal dan bisa diwarisi oleh anak cucu kita.

(Ayu Asri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *