Kuliner Sate Rembige Makin Menggeliat

Sate Rembige

Sate Rembige merupakan salah satu kuliner khas Lombok, hidangan yang kaya akan rempah dan terkenal dengan cita rasanya yang pedas manis ini berasal dari Kelurahan Rembiga, Selaparang, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Cikal Bakal Sate Rembiga.
H. Lalu Mahdaraini, tokoh adat Kelurahan Rembiga menjelaskan bahwa Pada tahun 1962 H. Abdurrahim adalah satu-satunya pemilik Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Rembiga pada saat itu. RPH tersebut berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman (di sekitar area SMP 8, Mataram sekarang). Selain sebagai pemilik RPH Abdurrahim juga seorang jagal (orang yang bertugas menyembelih hewan ternak seperti sapi dan kambing). Sebagai satu-satunya RPH di Rembiga maka tak heran kalau H. Abdurrahim bisa memotong puluhan ekor sapi dalam sehari. Setelah disembelih selain dijual dalam keadaan segar, daging-daging sapi tersebut juga diperoses menjadi berbgai makanan olahan daging seperti dendeng, kerupuk dan lain-lain.

“Saking banyaknya ketersediaan daging sapi pada saat itu, kadang-kadang daging sapi tidak langsung habis terjual. Pada saat itu belum ada freezer atau lemari pendingin maka salah satu cara pengawetan daging adalah dengan cara dijemur atau dibuat dendeng. Tidak puas dengan hanya membuat dendeng maka Hj. Napisah, isteri Abdurrahim berpikir untuk mengolah daging sapi tersebut menjadi sate.” ungkapnya.

Proses Bakar Sate Rembige

Peroses pembuatan Sate Rembiga cukup sederhana namun memerlukan ketelitian dan keterampilan khusus. Daging sapi pilihan dipotong-potong dadu lalu dipukul –pukul atau digeprek biar empuk. Agar bumbunya bisa meresap sempurna sampai ke serat daging, daging kemudian direndan atau dimarinasi ke dalam racikan bumbu yang terdiri dari cabai merah, bawang merah, bawang putih, terasi, gula merah, dan ketumbar sangrai. Setelah dimarinasi kurang lebih satu jam, daging kemudian ditusuk lalu dibakar diatas arang batok kelapa. Teknik marinasi dan teknik Pembakaran ini menghasilkan cita rasa khas yang semakin kuat.

“Sate ini kemudian disebut dengan “Sate Bantengan”. Karena berasal dari Rembiga dan banyaknya permintaan dari luar daerah, maka untuk memperjelas asal usul dan identitasnya maka sekitar tahun 1976, Sate ini kemudian di sebut dengan “Sate Rembiga.” jelas H. Lalu Mahdaraen yang juga menjabat sebagai Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ini.

Seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya pendatang dari luar daerah yang menetap di Rembiga terutama pendatang dari pulau jawa. Menurut Para pendatang yang mencoba “Sate Rembiga” mengatakan bahwa Sate Rembiga memang sangat lezat namun terlalu pedas bagi lidah mereka. Saking banyaknya komen dan permintaan dari luar daerah tersebut, Sate Rembiga yang dulunya bercita rasa pedas yang disesuaikan dengan lidah orang Lombok, maka dibuatlah inovasi dengan cita rasa sedikit manis sehiingga terciptalah cita rasa pedas manis hingga saat ini.

Saat ini, Sate Rembige tidak hanya menjadi hidangan sehari-hari bagi warga lokal tapi sering disajikan juga dalam acara adat atau perayaan hari-hari besar. Bahkan juga telah menjadi sajian yang sangat populer di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Lombok. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Lombok, rasanya belum lengkap kalau belum mencicipi Sate Rembige. Dengan segala keunikan dan rasanya yang khas, Sate Rembige telah berhasil menjadi primadona dan menjadi salah satu ikon kuliner Lombok. Rasa pedas manis yang khas membuat liadh siapaun akan ketagihan untuk terus dan terus mencicipi. Bahkan para pengunjung atau wisatawan dari luar daerah seperti, Surabaya, Jakarta Bandung dan lain-lain selalu merasa tidak puas hanya dengan makan di lokasi saja, kebanyakan diantara mereka memesan untuk dibawa pulang dan dijadikan oleh-oleh agar bisa dinikmati lagi bersama keluarga di rumah. Banyak diantara mereka juga kembali ke Lombok bersama teman dan keluarga hanya untuk menikmati kembali kelezatan Sate Rembiga yang tiada duanya.

Dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan ke Lombok maka permintaan akan Sate Rembiga pun semakin meningkat. Hal ini membuat Pengusaha Sate Rembiga semakin bergairah untuk meningkatkan produksi dan memperluas jaringannya.

Hj. Sinaseh salah satu pengusaha Sate Rembiga yang beralamat di Jl. Dr.Wahidin No.11B Rembiga, menjelaskan bahwa awal-awal buka lapak hanya mengolah bahan sekitar 2 – 3 kg daging sapi yang menjadi bahan utama Sate Rembiga. “Seiring dengan makin banyaknya permintaan terutama dari para wisatawan luar daerah maka kami bisa mengolah 80 – 100 kg daging sapi per hari.” Ungkapnya.

Selain meningkatkan produksi para pengusaha Sate Rembiga juga memperluas jaringannya dengan membuka outlet-outlet baru seperti yang dilakukan oleh Pak Hafid dan ibu Jumiati yang merupakan anak dan menantu dari ibu Napisah Sang Creator Sate Rembiga.

“Karena outlet kami yang lama sudah tidak bisa menampung tamu yang ingin menikmati sate di tempat maka pada pertengahan bulan Juni 2026 ini kami membuka Oulet baru yang lebih besar dan luas. Outlet baru ini kami beri nama “Sate Rembiga Ibu Jumiati Hafid yang berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman sekitar 200 meter timur Lampu Merah Rembiga.” Jelas ibu Jumiati.

(Ayu Asri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *